Aceh dan Rohingya dalam Bingkai Kemanusiaan

Aceh dan Rohingya dalam bingkai kemanusiaan
Oleh : Deva Risma

“Ngapain bantu orang asing, sedang di negeri kita masih banyak kaum dhuafa? Apalagi ditengah musim Corona seperti ini. Bagaimana kalau mereka positif Covid-19?. Contohkan Negeri orang mereka profesional dalam urusan penanganan virus berbahaya ini.”

bimcmedia.com/ Warga Rohingya ( gambar dari Instagram @ACT_Aceh)

Meme semacam itu pernah terdengar dari sebagian golongan kecil. Mirisnya itu narasi semacam itu dari kaum terpelajar. Saya juga tidak paham tentang nurani mereka yang terkesan egois. Bukankah bisa di isolasi atau rapits tes. Lihat sekarang tidak ada satupun masalah setelah menerima etnis Rohingya di negeri serambi Mekah ini.


Membahas Rohingya tentu berbicara tentang kemanusiaan. Kurasa semua makhluk yang disebut manusia akan menjerit diterdalam sana. Ketika melihat fenomena etnis Rohingya yang terdampar berminggu-minggu di laut lepas. Bahkan untuk sebuah kapal yang amat penuh muatannya. Tanpa ada bekal apa-apa. Bahkan nyaris sebahagiannya tidak memiliki pakaian utuh. Kullit mereka terbakar matahari di atas permainan gelombang. Hanya berharap angin akan membawa kapal ke tempat yang mau menerima mereka.


Pada bulan lalu, di bibir pantai Aceh Utara kembali terdampar sebuah kapal etnis Rohingya sebanyak 94 orang. Mereka terdiri dari berbagai usia dari orang tua hingga balita. Etnis Rohingya ini ditemukan oleh para nelayan. Alhamdulillah mereka di sambut baik oleh masyarakat setempat. Bahkan masyarakat sempat mendesak pemerintah untuk menerima kedatangan mereka. Syukur pemerintah tidak bersikap egois di tengah maraknya wabah Corona ini. Bukan seperti negara lain yang kerap menolak kedatangan etnis Rohingya. Iya paham paham saja mereka sedang memberlakukan lockdown.


Masyarakat Aceh tergopoh-gopoh membantu 94 etnis Rohingya. Memberikan penginapan, makanan, pakaian bahkan bahkan obat-obatan. Dari mulai pedagang mie kerang sampai petani garam di Aceh Utara ikut ambil bagian dalam memberi bantuan untuk etnis Rohingya. Lalu dari segala lapisan ormas turun tangan untuk ikut andil dalam memfasilitasi etnis Rohingya ini. Yang nyaris tidak memiliki apa-apa selain yang tubuhnya. Ditengah masa krisis ekonomi ini, etnis Rohingya tetap bisa mendapat pelayanan yang baik di Aceh.

Itu semua dilakukan masyarakat Aceh merupakan panggilan kemanusiaan. Karena untuk menerima etnis ini. Bukan hanya tentang permasalahan memiliki kepercayaan yang sama. Kebetulan mereka Muslim. Melain karena rasa kemanusiaan. Anak kecil saja bisa berkata “ Kasihan” terhadap keadaan etnis Rohingya tersebut.


Berbicara rasa kemanusiaan dalam diri masyarakat Aceh. Memang bukan lagi hal yang baru. Aceh sudah cukup merasakan bagaimana sikap kemanusiaan, bahkan sikap tak berkamanusiaan sekalipun. Itu semua tidak luput dari protet Aceh dalam beberapa dekade.


Ketika zaman penjajah, bagaimana pilunya orang Aceh mempertahankan tanah kelahirannya. Bahkan kerap kehilangan marwah di buminya sendiri. Berbagai perlakuan biadap dan keji terjadi di bumi Aceh ini.

Lalu masuk zaman konflik yang berkepanjangan. Berapa banyak darah yang telah tumpah, ratusan jiwa tak bersalah melayang secara tidak wajar. Kaum perempuan mendapat tindak pelecehan dari mereka yang bersenjata. Rumah warga, dayah, sekolah terbakar. Wajah Aceh redup sepanjang tahun, hingga berakhir masa MoU di Helsinki.


Keadaan masa konflik di Aceh hampir sama seperti yang dirasakan oleh kaum Rohingya. Dianiaya di tanah kelahirannya sendiri. Bukan tidak ada warga Aceh yang berlabuh ke negeri Jiran untuk mengadu nasip yang tak kunjung menemukan titik terang. Bahkan mereka kerap berani masuk ke negeri orang tanpa berpasport.


Dan lagi setelah perdamaian. Aceh diterjang ombak laut yang maha dahsyat atau disebut tsunami. Saat itu berbagai bantuan datang dari seluruh penjuru dunia. Saya masih ingat ketika mendapat bantuan baju. Pakaian itu semua berbentuk pakaian orang-orang luar negeri, selama ini saya dilihat di TV. Sekolah-sekolah kembali dibangunkan oleh berbagai relawan. Rumah warga dibangun secara gratis. Lantas bantuan yang didapatkan oleh orang Aceh kala itu. Apa hanya karena kesamaan kepercayaan. Tidak! Tapi panggilan rasa kemanusiaan.


Pun demikian Rohingya hari ini. Membantu etnis Rohingya tersebut tidak harus Islam tetapi cukup mereka yang disebut manusia. Maka tak ayal jika yang dilakukan oleh masyarakat Aceh ini bukan sesuatu yang baru. Namun sudah terdoktrin baik sifat kemanusiaan dalam diri orang Aceh. Maka jika orang Aceh tidak peduli lagi terhadap keadaan kemanusiaan. Maka, sungguh ruh keacehannya di pertanyakan.

(Redaksi/ DR)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: