Aku, Istriku dan Corona

Aku menatap jauh kedalam iris mata cokelatnya. Kudapati segenap rasa ingin terus bergandengan hingga ke surga. Ada segenap cinta yang tak bisa terdefinisikan jauh di terdalam sana. Mungkin inilah cinta sejati, inilah jodoh terbaik dari Tuhan.

Bimcmedia.com/ Ilustrasi


Cintanya padaku tak pernah berkurang meskipun uang belanja sering kekurangan. Dia dengan kelembutan sifatnya selalu menjadi alasan untukku terus bersemangat melanjutkan kehidupan. istriku pelipur lara dikala rekeningku kosong tak bersisa.


Sejauh ini perjalanan rumah tanggaku. Asrita selalu setia mendampingiku dalam mengarungi bahtera kehidupan yang rumit ini. Asrita, perempuan berdarah Padang. Kami berjumpa ketika sama-sama merantau di kota metropolitan. Aku menikahinya hanya dengan satu gram emas dan seperangkat alat shalat. Tanpa ada pesta megah apalagi honeymoon ke negeri sakura.


Setelah menikah kami menetap di Kota Jakarta. Mencari sesuap nasi untuk terus melangsungkan kehidupan. Harap-harap bisa mendapat kehidupan yang lebih baik kedepan. Hidup dirantau tidaklah mudah apalagi di Jakarta, yang memiliki tuntutan gaya hidup yang tinggi. Aku bekerja di sebuah perusahaan elektronik bagian gudang. Gajiku dibawah standar tanpa tunjangan.


Dengan gajiku yang pas pasan. Kami harus mengulum segala keinginan untuk memiliki barang-barang mewah. Istriku cukup sederhana dan sangat piawai dalam mengatur keuangan. Bahkan dia juga menerima cucian orang untuk membantu keuangan rumah tangga kami. Alhamdulillah kekurangan materi tidak menjadi penghalang agar kami bisa berbahagia.


Awal 2020, aku mendapat khabar bahwa Ayahku kena serangan jantung. Dan kondisinya sudah sangat sekarat. Ibuku telah meninggal sepuluh tahun yang lalu. Tahun kedua aku merantau ke kota ini. Dan aku tidak sempat berjumpa dengannya saat sakratul maut. Pikiran khawatirku mulai bekerja, aku tidak ingin terulang lagi pada Ayah. Sudah cukup rasa bersalahku dulu pada Ibu.


Aku berdiskusi intim dengan istri. Asrita menyarankan agar kami segera pulang ke Aceh. Dengan memakai seluruh tabungan yang kami punya.


Satu hari sesampai di Aceh, Ayah menghembus nafas terakhirnya. Segala ritual takziah terlaksanakan di kampung. Uang yang kami punya sangat sedikit hanya cukup untuk ongkos pesawat pulang pergi ke Jakarta.


Tiba-tiba isu wabah Corona dari Nuhan telah menggemparkan dunia may dengan berbagai meme. Apalagi ketika khabar beberapa orang telah positif Covid-19 di Jakarta. Para TKW dari China dipulangkan dan di isolasi di pulau Natuna.


Kota Jakarta tidak lagi baik-baik saja bahkan nyaris gonjang ganjing. Ekonomi lumpuh siswa menjalankan daring dan pegawai sipil dan swasta diberlakukan WFH (Work From Home). Melalui sosial media aku terus memantau perkembangan wabah Covid-19 itu.


Suatu pagi, di grup WhatsApp kantor mendapatkan pemberitahuan. Langsung oleh direktur perusahaan bahwa 75% pegawai di Perusahaan tempatku bekerja harus dirumahkan tanpa dibayar. Dan salah satunya yang masuk kedalam daftar PHK adalah aku. Aku membaca berulang kali. Disitu tertulis rapi namaku, HENDRI SAPUTRA. Iya itu namaku, aku di PHK. Mau tidak mau itu sudah keputusan mutlak, kami hanya diberi sedikit uang tambahan dari gaji kami yang terakhir.


Dikala pemutusan hubungan kerja di perusahaan. Kontrakan kamipun sudah sampai batas untuk lanjut atau tidak. Jakarta, disana kami menyewa kontrakan bukan pada sanak keluarga. Sudah menjadi perjanjian jika tidak bayar maka angkat kaki. Iya positif saja, pemilik kontrakan juga butuh uang. Semua barang-barang penting kami titipkan kepada salah satu teman dekat di sebelah kontrakan itu.


Aku dan istri berpikir berulang kali. Untuk apa balik ke sana lagi toh tidak ada apa-apa lagi. Istri setuju saja untuk menetap di desaku ini. Dengan keadaan 100 persen lebih baik dari kondisi Jakarta saat ini. Jujur kami termasuk orang yang gelagapan bahkan sampai paranoid terhadap virus Corona itu.


Akhirnya kami tinggal di rumah orang tuaku yang sudah tak berpenghuni itu. Memang setelah bagi warisan rumah itu untukku sebagai putra bungsu. Apalagi kedua saudara perempuanku sudah berkeluarga dan punya rumah sendiri. Dan lagi ada sepetak sawah yang bisa kugarab untuk menunjang kehidupan.


Aku berharap keadaan ekonomi di desaku ini akan membaik. Untuk memulai bercocok tanam aku harus memiliki modal awal sedikit seperti biaya handtraktor, benih, pupuk. Soal uang, hanya tinggal cukup untuk makan barang dua bulan lagi.


Untuk modal awal turun kesawah, harus mengutang pada kerabat. Alhamdulillah mereka mau membantu. Disinilah bersyukur enak tinggal di desa. Sesusah apapun masih ada keluarga yang mau membantu.


Efek Virus Corona tidak hanya berimbas pada kota Jakarta tapi juga sampai ke masyarakat desa. Harga sembako yang melonjak tidak berimbang dengan harga hasil pertanian yang turun drastis. Mata pencarian di desa terasa sulit setelah habis musim tanam. Aku kerap bekerja buruh bangunan sampai menjadi kuli angkut pasir di sungai.


Dalam kondisi yang sangat mencekik para kepala rumah tangga. Istriku terus berusaha membantu untuk mengurangi bebanku. Tanpa merepotkan suaminya ini dia membuat kebun di samping rumah untuk menanam sayur dan palawija. Bahkan istriku tidak lagi memasak dengan gas elpiji. Tapi dia lebih memilih mencari kayu di hutan.


Keadaan tidak kunjung membaik, keuangan keluarga sempat kosong. Belum lagi pempes dan susu anak. Hingga istri berinisiatif untuk tidak membeli lauk setiap hari. Aku tidak banyak mengeluh apapun yang dihidang oleh istri. Aku tetap menyantapnya dengan lahap untuk membahagiakannya.
**


Pada hari megang, aku mendapat sedekah daging kambing dari saudara jauh Ayah. Disepanjang perjalanan pulang aku membayangi kari kambing yang akan dimasak oleh istri. Istriku sangat pandai memasak kari kambing. Segera merongoh saku kudapati hanya selembar uang limpol. Karena dari kemarin kulihat bahan dapur sudah menipis.


“Sayanggg, sini ada daging nih.” Aku meluncur kedapur, ternyata istri lagi menyiram tanamannya yang sudah tumbuh sekira 30 centi.


“Apa itu Abang?” tanya istri langsung menemuiku.


“Daging kambing dari Paman Hasan,” sahutku dengan sumringah.


ÔÇťAbang beli?” ketus dia dengan wajah tegang.


“Tidak sayang, ini sedekah Paman.” Aku langsung menuangkan kesebuah ember kecil.


“Alhamdulillah kesampaian juga keinginan Abang makan daging dihari megang,” sahut istri dengan berbinar.


Kuulurkan selembar uang lima puluh ribu padanya.


“Ini untuk belanja dapur,” ujarku.
“Baik Abang terima kasih. Tolong jaga Davi lagi tidur di ayunan. Rita ke warung dulu untuk belanja bahan dapur.”

Asrita langsung menutup pintu berjalan ke warung.
Asrita begitu semangat untuk memasak makanan kesukaan suaminya. Sudah beberapa hari nampak iya mengulum keinginan untuk berbelanja dapur. Tapi mungkin iya sungkan meminta karena sudah seminggu aku tidak bekerja.


Matahari sudah berada di titik tengah bumi, bayangan sudah seukuran dengan benda asli. Namun cukup merasa gerah, mungkin karena uap bendungan mendung yang pekat di ufuk barat. Hari ini adalah hari megang pertama. Nuansa kedatangan tamu mulia nampak dari raut wajah kaum muslimin. Masjid-masjid terlihat bersih. Dan Masyarakatpun sibuk menyediakan makanan spesial di rumahnya.


Desaku termasuk paling semarak merayakan megang. Terlihat jejeran lapak penjual daging mudah ditemukan. Tidak kalah dengan penjual kuliner khas daerahku. Masyarakat saling berkunjung kerumah kerabat dan teman sejawatnya. Bagiku daging adalah masakan wajib dihari megang. Sedari kecil ibu selalu memasak kari kambing kesukaan ku. Semangkuk kolak terhidang spesial diatas meja, sepiring tapai ketan, lemang dan beberapa kue basah. Semua masakan khas daerahku itu terhidang cantik diatas meja.


Tidak terasa luapan kerinduan bercampur sendu memuncak. Gemuruh bagai berdatangan dari tiap sudut jiwaku. Terasa kedua anak sungai mengalir deras di wajah yang menuju kepala empat ini. Aku mematung diatas kursi dengan mata mulai sedikit kabur. Megang ini aku tidak bisa membeli daging. Di rumahku tidak apapun makanan khas megang. Apalagi untuk mengajak anak istri main-main. Iya ini soal uang, uang yang sedang tidak ramah denganku. Masih untung punya istri yang begitu pengertian dan sabar. Apapun keadaan dia selalu ceria tanpa berkeluh kesah.


Lamunanku buyar ketika istri menyodorkan semangkuk kari kambing di depanku. Dengan sigap diapun mengulur piring berisi nasi. Aku tersenyum lebar, ah betapa hidup ini penuh teka-teki. Baru saja aku bersedih karena keadaan. Sekarang sudah bisa tersenyum sumringah. Karena dapat menikmati kari kambing. Walaupun daging sedekah orang.


“Bang, enak gulainya?”tanya Istri. Sambil memperhatikan aku yang sedang melahap sepiring nasi dengan kari kambing.


“Enak Dik cuma seperti ada yang kurang?” sahutku.


“Iya Bang, kari kambingnya kurang bawang,” sahut istriku dengan wajah lotoi.


“Kenapa tidak beli sekalian tadi bawangnya?” tanyaku.


“Uang yang Abang kasih hanya cukup untuk garam, minyak makan dan beberapa keperluan lain yang lebih penting dari bawang,” culasnya dengan rinci.


“Maaf, uangnya cuma segitu yang ada.” Aku menatapnya jauh.


“Iya Bang, makanya tidak minta lagi. Karena sudah tahu cuma itu uang terakhir kita,” ujarnya dengan lemah lembut.


“Ya Allah terima kasih untuk nikmat terbesar ini,” lirihku dalam hati.


Waktu terasa bergulir lambat. Efek Virus itu memang menakutkan. Namun gejolak ekonomi yang tidak stabil lebih mengerikan dari Virus Covid-19. Dari mulai megang hingga siap lebaran. Ekonomi keluargaku jauh dari kata normal. Nyaris khas kosong berkali-kali. Istri sudah berhemat sedemikian mungkin. Seperti tidak menggunakan elpiji, tidak ada snack, junk food, minuman ringan. Bahkan untuk bahan bukaan istri selalu membuat juice kelapa, pepaya, dan manisan kedondong. Iya semua itu ada di perkarangan rumah. Sedangkan laut kami hanya mengonsumsi tempe dan tahu.


Mungkin terasa mengada-ada. Masa ikan saja tidak sanggup beli. Tapi kenyataannya aku dan istri sungguh tidak sanggup. Saat harus menggigit geraham makan apa yang mudah. Dan bersyukur adalah cara untuk meringankan semua keadaan yang genting seperti itu.


Soal dapur saja sudah sedemikian rumit. Apalagi cerita baju lebaran. Kami hanya sanggup membeli sepasang baju baru untuk Si kecil. Itupun tanpa alas kaki, masih untung anak masih balita, jadi tidak terlalu menuntut.


Istriku, dia tetap sabar melihat tentangga, saudara dan teman-teman dihari lebaran dengan baju barunya. Ketika banyak perempuan desaku disibukkan membuat kue. Namun dia seperti tidak terpengaruh dengan tradisi semua itu. Karena dia paham suaminya ini sedan mengalami krisis moneter. Apakatanya saat kutanya soal baju lebaran.


“Sudah ada buat sikecil Alhamdulillah.”


Corona memang terkesan laknat dari sang pencipta. Namun dibalik virus mematikan itu. Ada segenap hikmah yang tak dapat diterjemahkan. Hanya orang-orang yang mau berpikir dapat mengambil pelajaran berharga.


Corona mengajarkanku untuk bersabar tanpa batas. Meskipun sedang berada difase terendah. Dan Corona pula menyadarkanku untuk lebih mensyukuri segala yang Allah berikan. Semisal istri yang baik dan pengertian. Mungkin jika aku menikah dengan perempuan yang lebih cantik darinya. Bukan tidak mungkin mereka akan meninggalkanku ketika keadaan genting seperti sekarang. Atau saban hari akan terus menyiksaku dengan berbagai kemauannya.


“I love you so much my wife” aku membantin sendiri.


Oleh Deva Risma, Alumni UIN Ar-Raniry.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: