Breaking News

Dilanda Banjir, Ratusan Hektar Lahan Replanting Sawit Masyarakat Aceh Singkil Mati

Ratusan Hektar lahan Replanting Sawit masyarakat Desa Takal Pasir mati total akibat dilanda banjir kurun waktu empat bulan.

Bimcmedia.com,ACEH SINGKIL - Banjir yang melanda Aceh Singkil tidak sedikit berdampak kerugian materil. Disamping terhambatnya aktivitas pekerjaan, ternak dan lahan Replanting Sawit masyarakat pun hampir seratusan hektare mati.

Pantauan media, Selasa 26 Desember 2023 banjir yang telah menerjang sejumlah Kecamatan di Aceh Singkil mulai berangsur surut. Sebahagian wilayah permukiman bantaran sungai masih tetap terendam banjir.

"Secara umum banjir yang melanda Aceh Singkil, meski ada pasang surut selama dua bulan lebih, tapi bagi kami yang tinggal di bantaran atau daerah aliran sungai sudah empat bulan lamanya," kata Rabidin Limbong, Keuchik Takal Pasir Kecamatan Singkil kepada Wartawan, Selasa 26 Desember 2023.

Dikatakan, banjir 7 kali berturut-turut sejak September hingga Desember 2023 telah merendam ratusan hingga seribuan rumah penduduk, menghanyutkan sebagian ternak unggas dan mamalia, hingga telah merusak seratusan hektare lahan pertanian tanaman muda dan lahan program peremajaan sawit rakyat (PSR/Replanting).

Dampak lain, sebutnya, mata pencaharian masyarakat, semakin minim seperti aktivitas buruh dan karyawan. "Benar-benar menguji kesabaran, namun tetap berfikir positif bahwa semua kejadian ada hikmah dan ada kekuasaan tuhan yang mengaturnya," tutur kata Keuchik yang baru 15 hari terlantik itu.

Begitu pun, bantuan pemerintah seperti Sembako sudah bergulir ke setiap kecamatan hingga pelosok perkampungan. Sehingga meringankan beban korban dampak banjir.

"Yang sangat fatal sekali mengalami kerugian, yakni program peremajaan sawit setengahnya mati dilanda banjir," ujarnya.

Menurutnya Program Replanting dalam 4 tahun berjalan dalam dua kelompok. Diperkirakan PSR di kawasan khusus desa Takal pasir sebanyak 193 hektare dalam dua kelompok, jadi setengahnya sebanyak 96 hektare lebih mati dilanda banjir.

Mengatasi itu semua, saya hanya meminta kepada masyarakat saya yang petani sawit, untuk tetap bersabar, dan tidak patah arang.

"Harapan saya, semoga pemerintah dapat juga membantu para peternak dan petani yang mengalami kerugian," ucapnya.

Saya baru setengah bulan terlantik, sampai kini belum masuk kantor desa karena masih digenangi banjir. Dia bertekat usai banjir surut akan melakukan normalosasi parit, gorong-gorong agar limpahan air lekas surut.

"Upaya normalisasi ini juga akan bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup,* ujarnya.

Sementara Keuchik Pea Bumbung, Sarbaini menyatakan hal yang sama, kawasan Desanya yang berada di bantaran sungai sudah empat bulan terakhir ini dilanda banjir.

Menurutnya pemerintah sudah bisa mendatangkan Kapal keruk, karena kedalaman sungai alami kedangkalan yang diperkirakan sekitar tiga meter. " Setahu saya sejak saya kecil dulu kedalaman Sungai 10 meter hingga 20 meter dari permukaan air.

Sehingga saat ini, bukan hanya banjir kiriman, seperti jika hujan semalaman, sungai meluap dan langsung banjir. Sehingga Kemungkinan satu dekade mendatang banjir semakin kompleks jika tidak segera ada tindakan pengerukan nyata.

Apalagi, tambahnya, saat ini musim penghujan tak bisa lagi diprediksi, akibat dangkalnya sungai.

Komentar

Loading...
error: Content is protected !!