Breaking News

Eks Bunker Jepang di Simeulue, Wisata Potensial yang Belum Maksimal Digarap

Salah satu bunker penjajah Jepang di Kabupaten Simeulue, foto direkam di Desa Labuan Bajau, Kecamatan Teupah Selatan, Kamis (03/06/2021). | Foto : Serambiwiki.com

Bimcmedia.com, Sinabang ; Bunker sisa peninggalan (eks) Jepang di Kabupaten Simeulue destinasi wisata yang cukup potensial, namun belum maksimal di garap pemerintah.

Sebagai penjajah selama kurang lebih 3,5 tahun, Jepang bagi Indonesia Khususnya Wilayah Kabupaten Simeulue, Aceh. Ternyata tidak hanya meninggalkan kenangan getir, rupanya meninggalkan juga peluang pendapatan bagi Pemerintah Kabupaten Simeulue.

Peninggalan itu berupa bekas bangunan bungker yang masih bersisa dan sesungguhnya bisa menjadi destinasi wisata edukasi nan unik, mayoritas masyarakat Simeulue menyebut bangunan bunker Jepang itu dengan nama Kuruk-Kuruk. -Kuruk.

Sayangnya, potensi wisata ini ternyata belum begitu digarap sehingga bisa menjadi salah satu objek wisata sejarah andalan, baik diperuntukan bagi wisatawan lokal, mancanegara khususnya yang berasal dari Negeri Matahari Terbit.

Bunker yang menjadi bukti sejarah penjajah Jepang di Simeulue, merupakan sejarah yang tidak boleh dilupakan. Bunker tersebut mesti dirawat sebagai bukti sejarah pernah hadir penjajah di pulau yang berjarak puluhan mil laut dari lepas Pantai Barat Aceh.

Ironisnya, bekas-bekas bangunan tersebut ternyata belum begitu dikembangkan oleh Pemkab Simeulue.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Simeulue Asmanudin, mengatakan, sedikitnya terdapat sekitar 20 bangunan bunker bekas balatentara Jepang yang berserakan di berbagai lokasi dalam wilayah Simeulue.

Dikatakanya, hingga kini pemerintah setempat hanya melakukan pembugaran beberapa dari bangunan bunker tersebut. Persoalan anggaran dan bangunan yang masuk dalam kawasan lahan warga menjadi salah satu faktor penyebab bunker-bunker tersebut belum bisa dikelolah secara maksimal sebagai destinasi wisata edukasi.

"Selain dari keterbatasan anggaran, pemugaran bangunan bungker peninggalan Jepang juga terkendala lokasinya masuk dalam lahan milik warga," Kata Asmanudin kepada Bimc Media, Selasa (13/06/2023).

Kendati demikian, Asmanuddin mengatakan pihaknya terus berupaya untuk mengembangkan bangunan bungker tersebut untuk dijadikan objek wisata, sehingga bisa meningkatkan pendapatan perekonomian daerah dan masyarakat setempat.

"Sudah beberapa kali diusulkan untuk pembugaran, ditahun 2023 serta ranwal (Rancangan Awal) 2024 tidak ter-cover, karena kondisi keuangan daerah kita terbatas, " Tegas Kadis Pariwisata Simeulue.

***

Komentar

Loading...
error: Content is protected !!