Korbankan Anak Sekolah Akibat Online Terlalu Lama, Ini Kata Mendikbud

Korbankan Anak Akibat Sekolah Online
Kemendikbud, Nadiem Makarim | Foto : Kompas

Bimcmedia.com, Nasional : Seorang Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Indonesia untuk sekarang ini yaitu Nadiem Makarim menjelaskan bahwasanya ada berbagai macam laporan mengenai kendala yang dialami terkait Korbankan Anak Akibat Sekolah Online yang terlalu lama dilakukan oleh berbagai daerah sekolah, khususnya di Indonesia.

Menurut seorang Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Makarim tersebut , ada beberapa hal yang dialami oleh anak-anak atau siswa-siswi yang melakukan proses pembelajaran jarak jauh, diantaranya seperti kebosanan akibat selalu sering rumahnya, jenuh dengan begitu banyaknya video conference yang mereka lakukan di rumah saja, akibat mereka sudah biasa belajar di sekolah untuk berjumpa dengan teman-temannya sekaligus bermain bersama, nah sekarang selalu di rumah dan bermain sendiri, seperti yang kita lihat di video conference dan untuk berjumpa dengan gurunya

Bukan hanya itu saja, kondisi belajar yang tidak dinamis, kesepian, sehingga membuat banyak dari siswa mengalami depresi karena tidak bertemu dengan teman-temannya dan gurunya. Bahkan yang akan menjadi sebuah permasalahan domestik mulai dari stres yang disebabkan terlalu banyak berinteraksi di rumah dan kurang keluar rumah .

BACA JUGA : 

Dilansir dari CNBC, Jumat, (18/06/2021) Menteri Kemendikbud menjelaskan bahwa "Para pelajar merasa bosan, jenuh, belajar menjadi tidak dinamis dan kesepian. Selain dari pada itu, siswa-siswi juga mengalami depresi akibat tidak bisa ketemu teman, gurunya dan juga stres juga melanda karena terlalu banyak berinteraksi di dalam rumah saja,"

Selanjutnya Mentri Pendidikan, Nadiem juga mengatakan proses PJJ ( Pembelajaran Jarak Jauh) sudah terlalu lama bisa mengakibatkan korbankan anak akibat sekolah Online

terlalu lama sehingga tidak bisa menunggu lagi dalam menjalankan proses belajar tatap muka dan mengorbankan pembelajaran serta kesehatan mental para siswa-siswi yang melakukan proses belajar tersebut.

"Infrastruktur dan teknologi yang juga tidak memadai. Ini jelas Pembelajaran Jarak Jauh ini sudah terlalu lama dan kita tidak bisa tunggu lagi dan mengorbankan kesehatan fisik ataupun kesehatan mental bagi siswa-siswi" tutupnya.


[A-]

Komentar

Loading...
error: Content is protected !!