Mengenal Lebih Dekat Tari Saman Roa Lo Roa Ingi (Dua Hari Dua Malam) di Gayo Leus-Aceh.

Oleh : Sukri, M.Sos Akademisi & Lecturer Islamic Community Development

Laporan ,
Bimcmedia.com
Bimcmedia.com | Mengenal Lebih Dekat Tari Saman Roa Lo Roa Ingi (Dua Hari Dua Malam) di Gayo Leus-Aceh/Ist

Bimcmedia.com, Opini : Beberapa tahun belakangan ini banyak aktivitas dan rutinitas masyarakat yang tidak bisa dilakukan seperti biasanya, tidak lain disebabkan maraknya penyebaran Wabah Covid-19 yang merajalela khususnya di Gayo Lues Aceh dan Indonesia umumnya. Pandemi Covid-19 telah banyak mengubah tatanan dan pola kehidupan masyarakat, tidak hanya di Indonesia, bahkan keseluruh Dunia.  Mulai dari memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, dan menghidari kerumunan/keramaian (social distancing dan physical distancing.).

Tatanan atau pola hidup yang sedemikian tidak hanya diperuntukkan masyarakat yang tinnggal di Kota, namun sampai pada masyarakat desa. Segala aktifitas yang berkenaan dengan mengumpulkan orang banyak (membuat keramaian) tidaklah diperbolehkan, sebab tindakan itu dapat memicu penyebaran virus Covid-19 ditengah-tengah masyarakat.

Kabar gembira itu pun datang setelah berbagai upaya preventif  yang dilakukan oleh pemerintah untuk membasmi virus Covid-19 tersebut. Presiden Jokowi mengumumkan bahwa masyarakat diizinkan melepas masker saat berada di ruang terbuka dan tidak padat orang. Hal itu didasarkan atas penangan pandemi Covid-19 di Indonesia yang saat ini sudah membaik.

Baca Juga:

MPW Pemuda Pancasila SULAWESI TENGGARA akan Gelar Muswil VII Pada Jum’at 5 Agustus 2022

"Pemerintah memutuskan untuk melonggarkan kebijakan pemakaian masker. Sehingga masyarakat sedang beraktivitas di luar ruangan atau di area terbuka yang tidak padat orang maka diperbolehkan untuk tidak menggunakan masker," kata Jokowi dalam video pernyataan pers yang disiarkan melalui YouTube Sekretariat Presiden, Selasa (17/5/2022).

Tak lama kemudian masyarakat Gayo Lues yang selama ini identik dikenal dengan kesenian tradisionalnya yaitu Tari Saman yang lahir lebih kurang pada abad XVI dan hingga saat ini masih terus berkembang dan tetap masih dalam bentuk aslinya. Tarian ini dapat digolongkan sebagai tari hiburan atau pertunjukan, karena penampilan tari tidak terikat dengan waktu, peristiwa atau upacara tertentu, dan dapat ditampilkan pada setiap kesempatan yang bersifat keramaian dan kegembiraan, saaman biasanya di lakukan dirumah, lapangan, ada juga yang menggunakan panggung. Penampilan biasanya dilakukan pada hari-hari besar nasional, upacara perkawinan, hari raya, dan lain-lain.

Pertunjukkan biasanya dilakukan pada malam hari, dan bisa berlangsung sampai pagi hari bila dipertandingkan. Tari saman merupakan salah satu media yang mencerminkan nilai-nilai pendidikan, keagamaan, sopan santun, kepahlawanan, kekompakan, dan kebersamaan.

Saman Jalu biasanya di lakukan dua hari dua malam saja dengan melibatkan lebih dari dua tim yang aka bertanding dengan ketentuan setiap permainan dilakukan oleh dua tim saja sesuai dengan waktu yang telah disepakati. Pada permainan saman ini, mereka ditemani para gadis beliau dibelakang penari untuk memberikan semangat sambil mengipas-ngipaskan ujung kainnya dengan harapan kelompoknya tampil prima. Mereka adalah para penari-penari bines yang mengenakan busana adat. Para penari bines tersebut senantiasa menaggapi lontaran syair dari pihak tamu dengan syair-syair simbolis yang bermakna menerima atau menolak keberadaan gadis-gadis ini tidak saja sebagai pendukung tim tuan rumah,mereka juga memberi semangat kepada ti tamu sehingga tidak tertutup kemungkinanan setelah pertunjukan, para penari saman dan gadis-gadis tersebut mejalin hubungan yang lebih serius kelak.

Seni saman memiliki fungsi dalam konteks sosial dan budaya. Saman ini hidup karena fungsi-fungsi sosial. Saman memiliki fungsi-fungsi sebaga: integrasi sosial budaya, kelestarian dan stabilti budaya, pendidikan, hiburan, mengabsahkan berbagai ibadah dan upacara keagamaan Islam, sebagai sarana dakwah Islam, sebagai saran komunikasi, sebagai permainan spiritualiti Islam, sebagai pendukung mata pencaharian dan lain-lainnya.

Saman Roa Lo Roa Ingi dilakukan selama dua hari dua malam. Pada saat berlangsung Jamu Saman ini masing-masing mencari sahabat (serinen). Jamu Saman ini dilakukan secara bergantian. Caranya adalah sebagai beikut :
1. Mango
Mango dilakuan dengan mengundang pemuda-pemuda kampung lain, biasanya dipilih beberapa orang untuk utusan. Utusan ini membawa tepak (batil) yang lengkap dengan isinya.

2. Persiapan tempat
Tempat persembahan tari saman dibuat teratak (rerampen), luadnya tergantung kepada jimlah penduduk, pada bagian dinding atau pinggir digantung tebu kelapa muda sebagai minuman tamu yang baru diundang.

3. Penyambutan Jamu Saman
Penyambutan tamu (jamu) dilakukan diluar kampung berjarak labih kurang 1 km atau dissuaikan dengan keadaan tempat atau lapangan. Penyambutan dilakukan dengan Didong Belang (Didong Nalo)

4. Persiapan Makanan
Cara mempersiapkan makanan tamu yang diundang ada dua macam. Pertama, menyiapkan dapur umum memberikan makanan secara serentak, kedua dengan cara membawa serinen ke rumah masing-masing. Hal ini dilakukan sesuai kesepakatan kedua belah pihak pada saat Mango.

5. Persiapan Persembahan
Persembahan saman pada Jamu Saman dilakukan pada malam hari sekitar pukul 22.00 WIB setelai selesai salat Isya samapai pukul 04.30 sebelim shalat subuh dan pada siang hari mulai pukul 10.00-12.00 WIB dan dilanjutkan pukul 14.00-00 WIB. Persembahan diawali dengan pidato adat (Melengkan) atau pidato (Keketar) yang dilakukan secara bergantian.

6. Main tari saman
Main tari saman yang pertama dilakukan oleh tuan rumah (sukut) selama 30 menit tanpa diundi kemudin dilanjutkan oleh pihak tamu (jamu). Demekian seterusnya secara bergantian selama dua hari dua malam, hanya berhenti pada saat waktu shalat dan makan saja.

7. Memangka dan Mengging
Memangka adalah grup yang memimpin permainan tari saman sedangkan yang mengikuti tari saman di sebut mengging. Apabila tari saman yang di mainkan tidak dapat diikuti, maka pihak tersebut dinyatakan kalah.

8. Niro Ijin
Niro Ijin dilakukan pada hari (hari yang terakhir). Ada bagian masing-masing penari saman menyatakan permohonan maaf melalui syair (redet) saman. Setelah selesai dilanjutkan dengan tari bines, juga syair (jangin) menyatakan mohon maaf serta sanjungan terhadap tari saman yang sudah dipersembahkan.

Kemudian dilanjutkan dengan melengkan untuk melepas kepulangan tamu yang diantar ke pinggiran kampung setelah diberi nasi (kero selpah) untuk makanan pada saat berhenti ditengah jalan menuju kampung halaman.

Dalam beberapa hari yang lalu banyak masyarakat Gayo di Gayo Lues yang telah melangsungkan Bejamu saman roa lo roa ingi ( saman dua hari dua malam), diantaranya :
Kampung Marpunge Pintu Gayo dengan Kampung Remukut,
Kampung Marpunge pekan,titi dengan Kampung Terlis
Kampung Siongal-ongal dengan Kampung Buntul Musara Rerebe
Kampung Kutelintang dengan Kampung padang Terangun
Kampung kendawi dengan kampung liket (Aceh tenggara).

Saman roa lo roa ingi ( saman dua hari dua malam ) adalah salah satu ajang menjalin silaturahmi bagi masyarakat Gayo antara kampung yg satu dengan kampung yang lain,,sehingga dapat menumbuhkan rasa persaudaraan dan kesatuan hidup di dataran tinggi Gayo Lues Aceh.

Refrensi :
Rajab Bahry dkk, Saman Kesenaian Dari Tanoh Gayo, cet 1,(Jakarta: Puslitbang Kebudayaan, 2014),
Imam Juaini, Saman Di Aceh, cet 1, (Banda Aceh: Balai Pelestarian Nilai Budaya Banda Aceh, 2014),
Isma Tantawi, Pilar-Pilar Kebudayaan Gayo Lues, cet 1, (Medan, Perdana Publising, 2015),

Komentar

Loading...
error: Content is protected !!