Menyapa Mahasiswa Singkil Melalui Puisi W.S Rendra

Bimcmedia.com, Meulaboh : Sajak Tangan Sastra yang saat ini maknanya mulai disempitkan oleh anak muda hanya mentok untuk kekasih dan dunia percintaan. Terlebih soal puisi yang banyak digunakan untuk membuat lululanta pasangan kekasih adalah bentuk dari penyempitan kegunaan puisi sendiri.

Ilustrasi Gambar Mahasiswa

Padahal puisi sendiri punya getaran tersendiri dalam menyapa pembacanya, berperan sebagai ruang refleksi. Ruang dimana kita dapat melihat kenyataan getar jarak dan rasa ( Prasetyo, 2017). Puisi juga dapat digunakan untuk menyuarakan kehidupan sosial, kekuasaan, jeritan ekonomi dan sebagainya.

Jika kita berhenti sejenak dan melihat kebelakang, maka banyak para sastrawan tempo dulu yang menjadikan sastranya untuk menyulutkan api semangat sekaligus mendobrak masyarakat untuk peka terhadap suatu permasalahan serta mengekang sebuah keadilan. Sebut saja Wiji Thukul yang dengan puisi nya kita dapat merasakan getaran sebuah penindasan dan perlawanan. Wijih Thukul bikin puisi ditengah hidup buruh yang miskin. Dan pada akhirnya puisi itu dapat menggerakan semangat melawan rezim orde baru yang “diktator”. Walaupun pada akhirnya sampai saat ini keberadaanya belum di ketahui, tapi ia tetap hidup dengan jumlah yang lebih banyak, sebab karyanya akan terus menuyulut semangat pergerakan. Pramoedya Ananta Toer juga demikian, terus menulis walaupun dalam penjara.

Menghadirkan sebuah pelajaran sejarah atas kekejaman masa hindia belanda dalam nuansa yang sangat berbeda, membangkitkan semangat pribumi dalam tetraloginya pulau buruh. Pram seperti karang yang tak bisa di robohkan semangatnya. Berkali – kali karyanya dibakar, dilarang disebar luaskan, namun tak sedikitpun membuatnya berhenti menulis.

“Setiap kesusastraan adalah propaganda, tapi tidak setiap propaganda itu kesusastraan (Albert Camus)”.

Oleh sebab itu penulis yakin sastra sangat dapat mengobarkan kepekaan rasa anak muda tekhusus mahasiswa dalam peka terhadap kondisi lingkungan. Terlebih Aceh Singkil, yang saat ini sangat membutuhkan peran mahasiswa dalam pembangunan sosial masyarakat. terlebih dimasa pandemi saat ini. Ingin kiranya penulis ingin menyapa mahasiswa Aceh Singkil dengan sebuah puisi karya W.S Rendra – Sajak Tangan.

Inilah tangan mahasiswa,
tingkat sarjana muda.
tanganku. Astaga

Tangan di didalam kehidupan
muncul di depanku
tanganku aku sodorkan
nampak asing di antara tangan beribu
aku bimbang akan masa depan

Tangan petani yang berlumpur
tangan nelayan yang bergaram
aku jabat dalam tanganku
tangan mereka penuh pergulatan
tangan – tangan yang menghasilkan
tanganku yang gamang
tidak memecahkan persoalan
tangan cukong
tangan pejabat
gemuk, luwes, dan sangat kuat.
tanganku yang gamang dicurigai
disikat

Kini aku kantongi tanganku
aku berjalan mengembara
aku akan menulis kata – kata kotor
di meja Rektor

(Sepenggal puisi ini diambil dari buku Eko Prasetyo, Bergeraklah Mahasiswa)

Puisi yang sarat akan makna ini sangat menggetarkan jiwa mahasiswa terhadap kepekaanya melihat kondisi masyarakat, yang ternyata bagian dari mereka. Terlebih jika dibacakan dengan hikmat dan intonasi yang tepat. Maka sangat layak untuk menyapa mahasiswa Aceh Singkil saat ini. Kondisi daerah yang kian hari hanya mementingkan kepentingan pribadi saat ini mulai terasa. Kasus korupsi yang seolah biasa saja, tak heran jika sampai proyek septic tank juga menjadi proyek yang layak untuk dikorupsi, apa lagi tentang kapal cepat yang juga memprihatinkan keberadaanya (dikutip dari SerambiNews.com) . Oleh sebab itu mahasiswa harus terus hadir, ditengah gempuran permasalahan kabupaten saat ini.

Kekuatan puisi ini bukan hanya menyadarkan mahasiswa tetapi lebih jauh dapat memukul mereka untuk memberontak terhadap ketidak adilan dalam sebuah kebijakan yang akan menyengsarakan rakyat.

Tangan mahasiswa yang mulai enggan berbaur dengan tangan petani, tangan buruh, tangan nelayan yang “menghasilkan” penerus bangsa. Andai tangan itu mengepal bersatu dengan tangan mahasiswa, maka akan merasakan kesulitan yang kian hari dirasakan oleh masyarakat.

Kesulitan inilah yang harus mahasiswa mampu sampaikan, selesaikan, kepada masyarakat dan pemilik kekuasaan. Bukan justru menjadikan ini kondisi yang nyaman – nyaman saja. ayo mahasiswa Aceh Singkil, teruslah menjadi kontrol sosial bagi masyarakat, menjadi oposisi terhadap pemerintah. Engkau adalah jembatan penghubung suara masyarakat. Tri darma perguruan tinggi yang kita emban, maka sandingkanlah itu ke daerah kita, yaa.. daerah Aceh Singkil.
Hidup Mahasiswa….
Hidup Rakyat Aceh Singkil…

Penulis : Dian Saputra

Editor : Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: