MOU Helsinki Terancam Dilupakan

Bimcmedia.com, Meulaboh – Mengulas masa-masa pahit rakyat Aceh hidup di era konflik bersenjata akibat pasukan bersenjata berjuang melawan negara dengan tujuan digemakan untuk kesejahteraan karena hasil bumi diambil tanpa diperdulikan kehidupan pribumi Serambi Mekkah.

MOU Helsinki Terancam Dilupakan
Keterangan: Penandatanganan MOU Helsinki / Foto: Istimewa

Dunia mengakui betapa besar konflik di Aceh sejak Paduka Yang Mulia Almarhum Tgk. Muhammad Hasan Ditiro mendeklarasikan kemerdekaan Aceh di gunung halimun tahun 1976 silam. Dasar motivasi perjuangan Beliau menuntut keadilan di mana minyak bumi dan gas alam diambil hanya untuk memperindah pusat Ibukota Negara, Jakarta.

Dampak dari pemberontakan tersebut beberapa kali Aceh berubah status mulai Daerah Operasi Militer (DOM), Darurat Militer dan Darurat Sipil, namun pihak yang menamakan diri Gerakan Aceh Merdeka (GAM) tidak berhenti sampai akhirnya pasca tsunami melanda tahun 2004 silam. Aceh telah porak-poranda sehingga ditempuh upaya perdamaian di Helsinki, Finlandia, antara GAM dan Pemerintah Republik Indonesia, sehingga lahir Memorandum of Understanding (MOU) atau kesepakatan damai antara kedua pihak.

Di era konflik Aceh, kekerasan tiap hari terjadi. Masyarakat dipaksa jaga malam di pos kamling, tidak sedikit yang mendapat perlakuan tak wajar karena ketiduran. Umumnya warga pekerja di siang hari untuk menghidupi anak dan istri, namun apa mau dikata saat itu tak ada istilah membangkang untuk semua aturan mesti diikuti karena keamanan mencekam.

Mengenang masa lalu memang pahit dan tak mudah dilupakan. Kecuali hamba yang tak mensyukuri nikmat Tuhan semesta alam, di mana tiap hari ada darah mengalir, korban berjatuhan, kontak senjata di pemukiman warga, orang divonis tanpa peradilan, wanita sering menjadi korban, sekolah sering dibakar sehingga generasi terkontaminasi dengan kekerasan.

Sekarang ini, bumi Aceh sudah sudah 15 tahun dalam damai. Secara perlahan sejak tahun 2005 hingga sekarang, rakyat sudah kembali ke dunia dengan suasana merdeka, sudah diakui hak-haknya sebagai warga negara, anggaran negara telah diberikan ke Aceh dalam jumlah besar, pembangunan terus berjalan, lapangan kerja tersedia walaupun masih terbatas, pendidikan kembali normal sampai masyarakat dengan leluasa bisa keluar rumah siang dan sampai tengah malam, tidak ada lagi ketakutan seperti lima belas tahun lalu.

Hasil observasi dan diskusi dengan lintas generasi, umumnya kalangan tua mengetahui bagaimana proses perjanjian antara RI dan GAM. Mereka tahu perubahan keadaan, dirasakan perbedaan, sehingga sangat senang dengan kehidupan sekarang, bermohon kepada Allah agar Aceh tak lagi perang. Jika pemerintah tak mampu memberi pekerjaan tidak masalah namun yang sangat diharapkan masyarakat situasi keamanan terus bisa normal agar bisa mencari rezeki di bumi Tuhan.

Jika cerita MoU Helsinki kita tanyakan kepada generasi milenial yang disibukkan dengan game akibat kemajuan teknologi, umumnya mereka tidak mengetahui peristiwa besar tersebut. Selain malas mengupas sejarah juga minimnya sosialisasi yang dilakukan pemerintah, harusnya informasi tersebut jangan putus biar damai terus dijaga oleh kaum muda karena dengan mereka tahu masa lalu otomatis lebih siaga mengantisipasi peristiwa di masa mendatang.

Harusnya pemerintah memaksimalkan sosialisasi proses lahirnya kesepakatan antara pemerintah RI dan GAM, biar generasi milenial Aceh tak sia-siakan buah perdamaian, biar terus bersyukur dan merayakan tiap tahunnya, karena damai Aceh bukan milik sekelompok orang.

Selaku pemerhati sosial, saya sangat berharap tanggung jawab pemerintah dalam mensosialisasikan sejarah redanya perang di Aceh. Jangan sampai generasi menganggap peristiwa itu tak lagi penting, diabaikan atau bahkan dilupakan karena tidak ada yang beritahukan sehingga mereka lalai dengan dunianya.

Pemerintah harus menjadikan itu pelajaran sejarah khusus Aceh. Agar disampaikan di sekolah, kampus dan lembaga pendidikan lainnya, menyediakan anggaran sosialisasi bukan membuat kegiatan yang tidak bersentuhan langsung dengan pengetahuan, biar generasi muda Aceh tetap komitmen melestarikan perdamaian, mampu berfikir cerdah serta menjadi hamba Allah yang mensyukuri nikmat-Nya.

Bila langkah itu tak disikapi pemerintah dan pelaku sejarah, dikhawatirkan MoU Helsinki akan dilupakan oleh generasi mendatang. Mereka kini diserang teknologi hingga mengalami kemunduran akibat perang modern yang hingga kini telah sampai ke gang perkotaan dan lorong pedesaan. Kita mau sejarah pahit itu menjadi motivasi generasi untuk bangkit dari keterpurukan dengan harapan bisa terus mengisi perdamaian dan kemerdekaan Republik Indonesia. Aceh harus terus maju dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Penulis: Fitriadi Lanta (Ketua Umum Forum Komunitas Muda Barat Selatan Aceh (KMBSA)

Editor: Ubaidillah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: