Segelas Teh dan Rumahku

Laporan ,
Segelas Teh dan Rumahku
Syafwan Syahri/bimcmedia.com/Foto : Ist
SEGELAS TEH DAN RUMAHKU (ACEH SINGKIL)
Oleh : Syafwan Syahri

bimcmedia.com, Opini : Pagi itu aku dibangunkan oleh dinginnya embun. Ia mengajakku duduk bersama di teras rumahku, sembari menikmati segelas teh panas. Kami bersama-sama menikmati teh panas yang ku buat, ia membantuku untuk sedikit mendinginkan panasnya teh yang ku seduh. Aku sedikit bercerita kepadanya tentang bagaimana rasanya menikmati teh yang kekurangan gula. Sebelum itu aku memang membuat teh itu dengan hanya sedikit gula, dikarenakan gula yang tersisa tidak banyak lagi didapur. Lalu ia bertanya, tentang apa yang aku rasakan setelah menikmati teh itu. Aku menjawab dengan penuh kejujuran. Bahwa, aku seperti merasa kekurangan. Sontak, ia mengingatkanku kepada rumah tempat aku dibesarkan. Mataku melihat dengan sinis kepada pikiranku. Pikiran tajamku yang saat itu terpaku kepada rumah itu, memaksaku terdiam sejenak di dalam keheningan.

Pikiranku terus menyoroti rumah itu, hingga menimbulkan tanya dibenakku. Seolah-olang ingin menyampaikan kebingungannya kepada mentari yang baru saja muncul. Namun benakku tak mampu mengatakan, untuk menyampaikan kebingungannya. Bahkan mataku hanya bisa memandangi mentari itu, yang perlahan-lahan menerangi alam. Namun, seketika aku melihat cahayanya yang menghampiri serangkaian dedaunan bunga yang kuncup dan mulai mekar ketika cahaya itu menempel penuh di batangnya.

Secara tak sadar, mentari itu ternyata memberikan jawaban atas pertanyaan di benakku. Entah ia sudah mengetahui tentang kebingunganku yang belum kuceritakan kepadanya, aku tak tau. Namun, jawaban itu memberikan cahaya baru di dalam pikiranku. Aku melihat ada permasalahan-permasalahan internal yang menyebabkan rumahku tak memunculkan perubahan. Dan itu menjadi kekurangan yang ku rasakan selama ini. Ternyata penyebab genteng rumahku bocor ketika hujan, karena tidak adanya perhatian yang cukup. Sehingga kekokohannya sangat lembek. Dan kemudian aku melihat permasalah itu mucul karena faktor di internal rumahku sendiri.

Permasalahan yang sering terjadi sebenarnya, hanyalah permasalahan sepele. Namun, itu seperti sangat sulit diselesaikan. Aku mengira itu disebabkan oleh belum matangnya kedewasaan dalam ber-rumah tangga. Sehingga selalu timbul ke-egoan yang tinggi dan akan sulit memberikan perubahan jika demikian. Orang-orang yang tingal dirumahku terlalu membela ego masing-masing. Menimbulkan komuniskasi yang kurang, sehingga perubahan yang di angan-angankan itu tak kunjung datang. Itulah kekurangan yang aku rasakan sekarang. Padahal rumahku sudah berusia 21 tahun. Itu seharusnya menjadi masa-masa mudanya. Namun, aku tak melihatnya mengalami perubahan. Terkadang rasa kesal, menumpuk di benakku. Kenapa bisa terjadi hal demikian?!, itu pertanyaan yang ingin kulontarkan kepada petinggi rumahku. Aku miris melihat generasi yang akan datang nanti, menikmati teh dipagi hari di rumahku yang begitu-begitu saja. Apa yang ku katakan nanti, jika mereka menuntutku.

[]

Komentar

Loading...