Wajib Tahu, Bahaya Konsumsi Sapi Berlebihan

Laporan ,
Bahaya Konsumsi Sapi Berlebihan
Ilustrasi Gambar Susu Sapi/bimcmedia.com/Foto : Buka Review

bimcmedia.com, Meulaboh : Susu sapi banyak dipakai sebagai bahan baku pada sebuah masakan, yang dapat diolah sebagai produk lain atau dapat langsung dikonsumsi secara instan.

Seperti diketahui, bahwasanya susu sapi kaya akan gizi dan vitamin bagi tubuh. Dilansir dari laman berita kompas.com, (Senin, 07/12/2020) mengungkapkan bahwa didalam susu sapi mengandung vitamin B16, Vitamin K, Selenium, Niasin, Riboflavin dan Thiamin.

Dengan menkonsumsi susu juga sudah terbukti khasiatnya dalam pertumbuhan tulang, gigi, menjaga diabetes dan menjaga kesehatan pada jantung.

Namun, tahukah kamu jika sangat berbahaya jika menkonsumsi susu sapi berlebihan ? Karena dapat memicu beberapa efek samping sebagai berikut :

1. Jerawat

Dalam penelitian menunjukkan bahwasanya minum susu rendah lemak atau skim berlebihan bisa memicu tumbuhnya jerawat, terutama bagi kalangan remaja.

Karena susu dapat memengaruhi hormon tertentu dalam tubuh, termasuk insulin dan faktor pertumbuhan mirip insulin-1 (IGF-1).

2. Alergi

Alergi terhadap susu terjadi karena tubuh bereaksi terhadap protein yang ada di dalam susu tersebut.

Sehingga alergi susu sapi dapat menyebabkan beberapa gejala seperti, asma, sesak napas, diare, muntah, dan gangguan pencernaan.

Namun parahnya, alergi susu juga bisa menyebabkan anafilaksis yang mengancam nyawa.

3. Meningkatkan Resiko Patah Tulang

Menkonsumsi tiga gelas susu sapi atau lebih dapat meningkatkan risiko patah tulang.

Karena, protein hewani dalam susu sapi dapat menghasilkan asam saat dipecah.

Maka karena itu, konsumsi susu sapi secara berlebihan bisa meningkatkan risiko patah tulang.

4. Mengandung residu hormon dan antibiotik

Dalam susu sapi biasanya banyak mengandung residu hormon, antibiotik, serta dioksin dan polychlorinated biphenyls (PCBs).

Zat residu bisa berdampak negatif bagi kesehatan tubuh manusia, seperti berdampak buruk pada sistem saraf, sistem reproduksi, dan sistem kekebalan tubuh.

Hal ini juga bisa berpotensi meningkatkan risiko jenis kanker tertentu.

---

(AN)

Komentar

Loading...